Aku berada di depan gerbang neraka, mungkin aku hanya membayangkannya seperti itu. Tapi aku merasa seperti itu. Seolah dunia tempat aku hidup ini adalah jalan panjang menuju kematian yang berujung pada neraka. Tak ada lagi ketulusan dan kepolosan dari wajah dunia yang memancarkan kehangatan dari senyum dunia ini.
Sekian lama aku mencoba lepas dari keterpurukan yang ada di dunia yang hampir seluruh isinya hanyalah kebohongan. Aku mencoba untuk menciptakan sebuah cahaya kecil di tengah kegelapan dunia ini. Namun cahaya itu pada akhirnya harus tenggelam ke dalam kegelapan yang terlalu pekat untuk diisi oleh sebuah lilin kecil.
Hatiku hancur karena semua harapan yang kubangun dari cahaya kecil itu akhirnya padam. Api semangatku pun ikut padam. Aku yang semula adalah orang yang bisa menghadapi masalah dengan senyuman menjadi membenci cahaya yang tak bisa memberikan kehangatan dalam hidupku. Aku menjadi skeptis dan pesimis dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidup. Aku menjadi aku yang berbeda.
Dulu aku percaya Tuhan itu ada, Tuhan itu menjaga dan melindungi mereka yang membiarkan hatinya tetap murni dan tak tercemar. Tapi sekarang yang kusadari adalah tuhan tak pernah ada. Jika dia memang ada, mengapa cahaya kecil yang dulu pernah kuperjuangkan agar tetap menyala dalam kegelapan harus padam?
Orang-orang di sekitarku mulai mempertanyakan tujuan hidupku, dan aku hanya menjawabnya dengan kata ‘kematian’. Aku tak tahu lagi ke mana aku harus berjalan. Selama ini terlalu banyak celah-celah suram telah kulewati, seolah dunia menjadi neraka kecil tanpa batas dan tak pernah habis. Dunia ini tak pernah seterang dahulu di saat kau masih kecil, di saat orang tuamu hanya mengajarkan hal baik pada dirimu. Dunia ini telah menunjukkan sisi jahat dan terkelam dari apa yang selama ini bisa kita bayangkan. Dan aku tak bisa menaruh apa-apa pada dunia yang telah menjadi tua dan membusuk ini.
Sekali lagi, kematian menjadi pangkal dari hidup setiap orang. Akhir dari kehidupan setiap orang adalah kematian, bukan menjadi orang sukses, terkenal, dan kaya. Semua hanya terangkum dalam satu kata, Kematian! Tak peduli seberapa hancur kariermu dan seberapa banyak hartamu, hidup harus diakhiri dengan kata kematian. Dan akhirnya aku menjadikan kematian sebagai tujuan dari hidupku. Dan orang-orang yang mendengar aku berkata tentang kematian malah semakin menjauhiku dan menghindari kenyataan sederhana yang kuungkapkan.
Aku berkata tentang kematian, bukan berarti aku ingin menghabisi diriku sendiri, mencoba bunuh diri atau terbunuh dengan sengaja. Namun aku tahu, aku tak pernah menginginkan hidup, namun pada akhirnya aku hidup di dunia seperti ini, dunia yang tak kutahu di mana letak kebenarannya. Berarti aku tak berhak menentukan tentang kelahiranku dan aku pun tak berhak menentukan kapan aku mati, biarlah itu menjadi urusan dunia ini atau urusan orang lain yang hanya menganggap keberadaanku di dunia ini harus diberantas.
Skeptis, itulah aku.
Pesimis, buat apa aku optimis dengan keadaan yang selama ini malah semakin memburuk.
Rabu, 27 Januari 2010
Jumat, 22 Januari 2010
Blindfolded Archer
It’s just “change” that we can’t change in this world. There are a lot of changes I met since I woke up from hibernate. Time keeps running and doesn’t care about everything. When the time runs, I don’t realize that the fog has come. I thought I still could see my target. I have set my target for a long time. I have done well in shooting exercises. But suddenly the fog came and night made it worse. How can even an expert archer success kill their target if they can’t see it clearly? But if I choose to stop shooting my arrows, then I won’t be an archer anymore.
Someone had told me, “If you can’t bury the hatchet, you can choose to attack. If you can’t attack you can’t choose to defend. If you can’t defend, you can choose to quit. If you can’t to quit, you can choose to die.”
I can’t attack nor defend. But I don’t want to quit. I don’t even know if I want to die or not. Sometimes part of myself hope that I won’t see tomorrow anymore. But somehow I’m still hoping that the fog will disappear and I could kill my target. I want to fulfill my ambition and I have to fight for my pride as an archer. But I’m too exhausted. I can’t see it clearly now, and I can’t remove the fog.
And right now, I’m just a blindfolded archer.
~vermillion92
Someone had told me, “If you can’t bury the hatchet, you can choose to attack. If you can’t attack you can’t choose to defend. If you can’t defend, you can choose to quit. If you can’t to quit, you can choose to die.”
I can’t attack nor defend. But I don’t want to quit. I don’t even know if I want to die or not. Sometimes part of myself hope that I won’t see tomorrow anymore. But somehow I’m still hoping that the fog will disappear and I could kill my target. I want to fulfill my ambition and I have to fight for my pride as an archer. But I’m too exhausted. I can’t see it clearly now, and I can’t remove the fog.
And right now, I’m just a blindfolded archer.
~vermillion92
Kamis, 24 Desember 2009
24 December 2009
Entah gw harus bagaimana lagi
Gw semakin membenci hari-hari liburan ini
Bukan permintaan maaf dari mereka yang gw harapkan tapi perubahan dari sebuah sikap
Gw membenci hari-hari yang gw lewati
Dan tangis gw pun takkan pernah berhenti
23 Desember 2009
Gw benci untuk mengatakan ini.
Sebenernya ini merupakan hari libur pertama.
Libur yang sebenernya ditunggu-tunggu oleh semua orang.
Sebenernya semula gw juga mengharapkan kedatangan hari libur ini.
Namun entah kenapa, sekarang gw malah membenci libur
Gw bukanlah orang yang punya segudang kegiatan anak muda di luar rumah.
Teman-teman gw terbatas untuk orang yang sering gw temui karena kegiatan tertentu atau dia bukan teman gw sama sekali.
Sedangkan gw bukan orang yang dapat bersosialisasi dengan akrab dengan orang-orang tertentu
Sehingga dapat dikatakan pergaulan gw terbatas dengan orang-orang yang gw kenal secara dekat
Dan bisa dibilang, tak banyak kegiatan hang out yang biasa dilakukan anak muda yakni, JJS bareng teman-teman dsb
Gw cenderung menutup diri gw.
Meski kadang gw mudah menceritakan sesuatu kepada orang-orang di sekitar gw.
Kebanyakan gw hanya menceritakan harapan-harapan dan pendapat, serta kejadian impulsive dan bukan sesuatu yang mendasar dan menjadi perhatian yang memakana jangka waktu lama.
Singkatnya gak ada yang tahu perasaan gw sebenernya, kecuali saat gw secara impulsive juga marah di depan mereka semua.
Dengan begitu, mingkin bisa dikatakan kalo gw memelihara seekor monster dalam diri gw yang bisa keluar sewaktu-waktu.
Mungkin selama ini gw sudah membenci tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar gw.
Mungkin selama ini meski gw membenci, tapi gw menganggap itu semua sambil lalu, tidak perduli dan mengendapkannya dalam hati.
Namun di berbagai sisi, kebencian itu terkalkulasi dengan baik dalam diri gw tanpa gw sadari.
Dan kebencian itu terus terulang tanpa gw sadari, karena gw sudah terlalu sering mengalami hal seperti ini dan membuat gw semakin tidak peduli dengan keadaan diri gw sendiri maupun keadaan di sekitar gw.
Itu pun terkalkulasi di dalam diri gw… Dan sekali lagi, semua terjadi tanpa gw sadari.
Pantaskah orang yang sebentar lagi menginjak umur 18 tahun masih bersikap impulsive?
Menurut gw sebenernya gak, tapi apa boleh buat, itu masih terjadi pada diri gw sendiri.
Gw membenci diri gw yang seperti ini.
Dan gw semakin menyadari keimpulsifan gw ini terjadi karena gw terlalu lama di rumah.
Katakanlah gw selama ini di rumah tanpa ada kegiatan di luar rumah.
Banyak menghabiskan waktu di rumah padahal biasanya gw lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah.
Gw semakin tidak terbiasa di rumah.
Setiap hari paling tidak gw marah satu kali karena tindakan bokap gw yang kadang tidak memahami situasi dan kondisi.
Setiap hari paling tidak gw marah satu kali karena kata-kata nyokap yang ingin menasehati gw yang gak pernah konsisten dengan tindakannya sendiri
Setiap hari paling tidak gw harus mendengar dua keluhan dari nyokap gw mengenai sikap bokap gw yang kadang kelewatan untuk orang berumur tua
Dan sekali lagi dengan ketidak konsistenan nyokap gw
Gw harus mendengar dia mengatakan bahwa kita harus memaklumi sikap bokap gw karena dia sudah tua
Di sisi lain, setiap saat gw harus mendengarkan peringatan-peringatan kekanakan yang disampaikan nyokap gw yang masih berusaha membuat gw menambah depresi.
Di sisi yang lain gw pun masih harus bertahan dari sikap bokap yang selama ini selalu menganggap gw seperti seorang anak kecil yang mempunyai wujud anak berusia 18 tahun.
Dan di atas semuanya gw harus menjadi seorang yang ceria, terlihat kekanakan, cuek, dan tidak tertatur di depan orang-orang yang selalu menambah masalah hidup gw.
Siapakah gw ini sebenernya?
Gw udah terlalu capek untuk hidup di dalam sangkar indah seolah hidup gw sederhana dan tak punya banyak masalah, padahal sangkar itu hanyalah sebuah gubuk reyot yang bisa rubuh setiap saat.
Kapan gw bisa lepas dan mempunyai hidup gw sendiri tanpa harus menutupi kehancuran yang ada dalam diri gw sendiri?
Rein
Gw semakin membenci hari-hari liburan ini
Bukan permintaan maaf dari mereka yang gw harapkan tapi perubahan dari sebuah sikap
Gw membenci hari-hari yang gw lewati
Dan tangis gw pun takkan pernah berhenti
23 Desember 2009
Gw benci untuk mengatakan ini.
Sebenernya ini merupakan hari libur pertama.
Libur yang sebenernya ditunggu-tunggu oleh semua orang.
Sebenernya semula gw juga mengharapkan kedatangan hari libur ini.
Namun entah kenapa, sekarang gw malah membenci libur
Gw bukanlah orang yang punya segudang kegiatan anak muda di luar rumah.
Teman-teman gw terbatas untuk orang yang sering gw temui karena kegiatan tertentu atau dia bukan teman gw sama sekali.
Sedangkan gw bukan orang yang dapat bersosialisasi dengan akrab dengan orang-orang tertentu
Sehingga dapat dikatakan pergaulan gw terbatas dengan orang-orang yang gw kenal secara dekat
Dan bisa dibilang, tak banyak kegiatan hang out yang biasa dilakukan anak muda yakni, JJS bareng teman-teman dsb
Gw cenderung menutup diri gw.
Meski kadang gw mudah menceritakan sesuatu kepada orang-orang di sekitar gw.
Kebanyakan gw hanya menceritakan harapan-harapan dan pendapat, serta kejadian impulsive dan bukan sesuatu yang mendasar dan menjadi perhatian yang memakana jangka waktu lama.
Singkatnya gak ada yang tahu perasaan gw sebenernya, kecuali saat gw secara impulsive juga marah di depan mereka semua.
Dengan begitu, mingkin bisa dikatakan kalo gw memelihara seekor monster dalam diri gw yang bisa keluar sewaktu-waktu.
Mungkin selama ini gw sudah membenci tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar gw.
Mungkin selama ini meski gw membenci, tapi gw menganggap itu semua sambil lalu, tidak perduli dan mengendapkannya dalam hati.
Namun di berbagai sisi, kebencian itu terkalkulasi dengan baik dalam diri gw tanpa gw sadari.
Dan kebencian itu terus terulang tanpa gw sadari, karena gw sudah terlalu sering mengalami hal seperti ini dan membuat gw semakin tidak peduli dengan keadaan diri gw sendiri maupun keadaan di sekitar gw.
Itu pun terkalkulasi di dalam diri gw… Dan sekali lagi, semua terjadi tanpa gw sadari.
Pantaskah orang yang sebentar lagi menginjak umur 18 tahun masih bersikap impulsive?
Menurut gw sebenernya gak, tapi apa boleh buat, itu masih terjadi pada diri gw sendiri.
Gw membenci diri gw yang seperti ini.
Dan gw semakin menyadari keimpulsifan gw ini terjadi karena gw terlalu lama di rumah.
Katakanlah gw selama ini di rumah tanpa ada kegiatan di luar rumah.
Banyak menghabiskan waktu di rumah padahal biasanya gw lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah.
Gw semakin tidak terbiasa di rumah.
Setiap hari paling tidak gw marah satu kali karena tindakan bokap gw yang kadang tidak memahami situasi dan kondisi.
Setiap hari paling tidak gw marah satu kali karena kata-kata nyokap yang ingin menasehati gw yang gak pernah konsisten dengan tindakannya sendiri
Setiap hari paling tidak gw harus mendengar dua keluhan dari nyokap gw mengenai sikap bokap gw yang kadang kelewatan untuk orang berumur tua
Dan sekali lagi dengan ketidak konsistenan nyokap gw
Gw harus mendengar dia mengatakan bahwa kita harus memaklumi sikap bokap gw karena dia sudah tua
Di sisi lain, setiap saat gw harus mendengarkan peringatan-peringatan kekanakan yang disampaikan nyokap gw yang masih berusaha membuat gw menambah depresi.
Di sisi yang lain gw pun masih harus bertahan dari sikap bokap yang selama ini selalu menganggap gw seperti seorang anak kecil yang mempunyai wujud anak berusia 18 tahun.
Dan di atas semuanya gw harus menjadi seorang yang ceria, terlihat kekanakan, cuek, dan tidak tertatur di depan orang-orang yang selalu menambah masalah hidup gw.
Siapakah gw ini sebenernya?
Gw udah terlalu capek untuk hidup di dalam sangkar indah seolah hidup gw sederhana dan tak punya banyak masalah, padahal sangkar itu hanyalah sebuah gubuk reyot yang bisa rubuh setiap saat.
Kapan gw bisa lepas dan mempunyai hidup gw sendiri tanpa harus menutupi kehancuran yang ada dalam diri gw sendiri?
Rein
Senin, 21 Desember 2009
Irasonalitas
Mungkin bukan untuk pertama kalinya gw berpikiran seperti ini.
Mungkin gw telah berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali memikirkan hal ini.
Hanya saja aku tak pernah sadar telah berapa kali aku memikirkannya.
Mungkin saja aku sebelumnya tak pernah sadar bahwa aku telah berpikir seperti ini.
Bukan mauku untuk berpikir sejauh itu.
Bukan mauku untuk menjadi seperti ini.
Bukan mauku untuk hidup seperti ini.
Aku tahu
Hidupku jauh dari kata imajinasi
Aku terlalu merasionalkan segala hal.
Aku tahu banyak hal di dunia ini yang irasional
Tapi aku terus mempertanyakan bentuk rasional dari kehidupan manusia
Aku memilih untuk jauh dari apa yang disebut Tuhan
Aku memilih untuk mempercayai apa yang nyata
Sekalipun ketidakrasionalan dunia ini masih tetap kupertanyakan
Aku memilih untuk memahami apa yang masuk dalam logika
Tanpa peduli tentang apa yang hanya imajinasi dan dongeng belaka
Tetap saja aku tak pernah bisa lepas dari kehidupan yang terus-menerus menunjukkan keirasinalitasannya.
Tetap saja aku hidup di dunia di mana logika dipertanyakan arah dan tujuannya
Bukannya aku tak pernah mau memimpikan cita-cita yang besar
Bukannya aku tak mau beridealisme dan mempunyai harapan
Namun ketidakrasionalan dunia ini yang telah mendidikku untuk menjadi manusia yang paham akan fakta dari suatu kehidupan di dunia yang terlalu banyak menjual mimpi
Dunia inilah yang menjadikan diriku makhluk apatis
Yang pada akhirnya menjadi manusia yang tak paham apakah maksud dan tujuan bermimpi
Tak paham akan idealisme dan harapan-harapan yang tak pernah terkabul
Yang memandang harapan hanyalah sarana membuang waktu tanpa hasil
Yang menganggap idealisme hanyalah sebuah cita-cita kosong yang tak membuahkan apapun
Yang melihat mimpi hanyalah sebagai keindahan yang tak pernah terealisasikan
Rein
Mungkin gw telah berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali memikirkan hal ini.
Hanya saja aku tak pernah sadar telah berapa kali aku memikirkannya.
Mungkin saja aku sebelumnya tak pernah sadar bahwa aku telah berpikir seperti ini.
Bukan mauku untuk berpikir sejauh itu.
Bukan mauku untuk menjadi seperti ini.
Bukan mauku untuk hidup seperti ini.
Aku tahu
Hidupku jauh dari kata imajinasi
Aku terlalu merasionalkan segala hal.
Aku tahu banyak hal di dunia ini yang irasional
Tapi aku terus mempertanyakan bentuk rasional dari kehidupan manusia
Aku memilih untuk jauh dari apa yang disebut Tuhan
Aku memilih untuk mempercayai apa yang nyata
Sekalipun ketidakrasionalan dunia ini masih tetap kupertanyakan
Aku memilih untuk memahami apa yang masuk dalam logika
Tanpa peduli tentang apa yang hanya imajinasi dan dongeng belaka
Tetap saja aku tak pernah bisa lepas dari kehidupan yang terus-menerus menunjukkan keirasinalitasannya.
Tetap saja aku hidup di dunia di mana logika dipertanyakan arah dan tujuannya
Bukannya aku tak pernah mau memimpikan cita-cita yang besar
Bukannya aku tak mau beridealisme dan mempunyai harapan
Namun ketidakrasionalan dunia ini yang telah mendidikku untuk menjadi manusia yang paham akan fakta dari suatu kehidupan di dunia yang terlalu banyak menjual mimpi
Dunia inilah yang menjadikan diriku makhluk apatis
Yang pada akhirnya menjadi manusia yang tak paham apakah maksud dan tujuan bermimpi
Tak paham akan idealisme dan harapan-harapan yang tak pernah terkabul
Yang memandang harapan hanyalah sarana membuang waktu tanpa hasil
Yang menganggap idealisme hanyalah sebuah cita-cita kosong yang tak membuahkan apapun
Yang melihat mimpi hanyalah sebagai keindahan yang tak pernah terealisasikan
Rein
Sabtu, 28 November 2009
I'll Stand By You
Oh why you look so sad
The tears are in your eyes
Come on and come to me now
Don’t be ashamed to cry
Let me see you through
Cause I’ve seen the dark side too
When the night falls on you
You don't know what to do
Nothing you confess
Could make me love you less
I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you
So if you're mad get mad
Don’t hold it all inside
Come on and talk to me now
Hey, what you got to hide
I get angry too
Well I’m a lot like you
When you're standing at the crossroads
And don't know which path to choose
Let me come along
Cause even if you're wrong
I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you
Take me in into you darkest hour
And I’ll never desert you
I’ll stand by you
And when, when the night falls on you, baby
You feeling all alone
You won't be on your own
I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you
Take me in into you darkest hour
And I’ll never desert you
I’ll stand by you
Oh I’ll stand by you
I’ll stand by you
~vermillion92
The tears are in your eyes
Come on and come to me now
Don’t be ashamed to cry
Let me see you through
Cause I’ve seen the dark side too
When the night falls on you
You don't know what to do
Nothing you confess
Could make me love you less
I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you
So if you're mad get mad
Don’t hold it all inside
Come on and talk to me now
Hey, what you got to hide
I get angry too
Well I’m a lot like you
When you're standing at the crossroads
And don't know which path to choose
Let me come along
Cause even if you're wrong
I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you
Take me in into you darkest hour
And I’ll never desert you
I’ll stand by you
And when, when the night falls on you, baby
You feeling all alone
You won't be on your own
I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you
Take me in into you darkest hour
And I’ll never desert you
I’ll stand by you
Oh I’ll stand by you
I’ll stand by you
~vermillion92
Minggu, 22 November 2009
reasons why I love peter pan
I love peter pan
he is a brave young boy
he is creative
he is independent
he is confident with himself
he is free
he could do everything he want to do
he has no boundary
he has no rules
he never care what people say, cause he doesn't have to
he never grow up
I love peter pan
because I couldn't be like him
I love peter pan
because I'm just wendy
~vermillion92
he is a brave young boy
he is creative
he is independent
he is confident with himself
he is free
he could do everything he want to do
he has no boundary
he has no rules
he never care what people say, cause he doesn't have to
he never grow up
I love peter pan
because I couldn't be like him
I love peter pan
because I'm just wendy
~vermillion92
Sabtu, 21 November 2009
layang-layang putus
ketika sebuah layang-layang....
diterbangkan ke angkasa oleh sang pemain
dengan senar yang diikatkan begitu rapih
ke bambu-bambu yang menjadi kerangkanya
Ketika sebuah layang-layang...
berada di angkasa
ditarik dan diulur
tak jarang ia tersangkut
tetapi ia tetap bertahan
demi sang pemain
Ketika sebuah layang-layang....
sudah lelah dengan semua itu
bolehkah ia melepaskan diri?
bolehkan ia memutuskan senarnya,
dan pergi kemana angin membawanya?
Ketika sebuah layang-layang...
mencari tempatnya...
Adakah tempat bagi sebuah layang-layang putus?
~vermillion92
diterbangkan ke angkasa oleh sang pemain
dengan senar yang diikatkan begitu rapih
ke bambu-bambu yang menjadi kerangkanya
Ketika sebuah layang-layang...
berada di angkasa
ditarik dan diulur
tak jarang ia tersangkut
tetapi ia tetap bertahan
demi sang pemain
Ketika sebuah layang-layang....
sudah lelah dengan semua itu
bolehkah ia melepaskan diri?
bolehkan ia memutuskan senarnya,
dan pergi kemana angin membawanya?
Ketika sebuah layang-layang...
mencari tempatnya...
Adakah tempat bagi sebuah layang-layang putus?
~vermillion92
iseng
karena sudah lama tidak mengisi blog
maka hari ini dengan penuh keisengan gw akan menulis hal2 ga penting
jadi, gw nulis blog kali ini murni sekadar keisengan belaka.
tidak ada motivasi lain untuk menulis blog selain iseng
karena gw emang lagi ga niat curhat or something like that.
jadi ini adalah tulisan ter-ga penting sepanjang sejarah blog ini berdiri.
cuma buat menuh2in blog aja
mumpung masih bisa nulis, masih ada waktu buat nulis ini blog,
makanya gw nulis, walaupun hasilnya cuma kalimat2 ga penting, ga punya inti dan tujuan.
-sekian-
-terima kasih-
~vermillion92
maka hari ini dengan penuh keisengan gw akan menulis hal2 ga penting
jadi, gw nulis blog kali ini murni sekadar keisengan belaka.
tidak ada motivasi lain untuk menulis blog selain iseng
karena gw emang lagi ga niat curhat or something like that.
jadi ini adalah tulisan ter-ga penting sepanjang sejarah blog ini berdiri.
cuma buat menuh2in blog aja
mumpung masih bisa nulis, masih ada waktu buat nulis ini blog,
makanya gw nulis, walaupun hasilnya cuma kalimat2 ga penting, ga punya inti dan tujuan.
-sekian-
-terima kasih-
~vermillion92
Rabu, 11 November 2009
To act like nothing is wrong
Many things happened in my life
Many kinds of incidents passed in my life
Many bad things happened
And make me couldn’t smile
But so many simple good things passed too
And try to make me laugh just a bit
In this world of uncertain
We need to act like nothing is wrong
Although our hearth want to scream
Although our hearth has taken away
Or our hearth is break
And maybe our hearth is bleeding
We still act like nothing is wrong
Just act
And didn’t show the true feeling of weakness
Act like nothing is wrong
Rein
Many kinds of incidents passed in my life
Many bad things happened
And make me couldn’t smile
But so many simple good things passed too
And try to make me laugh just a bit
In this world of uncertain
We need to act like nothing is wrong
Although our hearth want to scream
Although our hearth has taken away
Or our hearth is break
And maybe our hearth is bleeding
We still act like nothing is wrong
Just act
And didn’t show the true feeling of weakness
Act like nothing is wrong
Rein
Realita
Gw tw setiap orang harus mengalami masa jatuh dan bangun
Gw tw setiap orang harus mengalami kesedihan dan kegembiraan
Gw pernah mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan yang membuat gw tak bisa tersenyum
Namun gw pun pernah mengalami saat-saat sederhana yang menyenangkan yang membuat gw tertawa hanya untuk alasan sederhana
Tapi apakah kebahagiaan, kesedihan dan masa-masa sulit harus datang bersamaan?
Gw gak pernah mengharapkan dunia gw sempurna dan gw akan bahagia seratus persen
Tapi setidaknya gw mengharapkan agar orang-orang di dekat gw tak perlu mengalami sesuatu yang tak menyenangkan
Idealisme gw hanyalah berharap orang-orang yang gw cintai tak perlu menderita
Namun kenyataan berkata lain
Dulu gw pernah kehilangan orang yang gw sayangi
Dan sekarang gw harus sekali lagi melihat orang yang gw sayangi menderita
Kadang aku ingin ikut membantu memikul penderitaan itu
Kadang aku ingin mencoba merasakan apa yang dia rasakan
Tapi pada kenyataannya aku hanyalah makhluk lemah yang tak bisa berbuat banyak
Entah apakah Tuhan adil dengan memberikan manusia akal budi namun manusia tetap lemah adanya?
Entah apakah aku sebagai manusia yang memang tak bisa menerima kenyataan dari setiap kejadian yang ada?
Atau aku hanyalah segelintir orang yang pesimis melihat kenyataan yang tertulis dalam hidup manusia?
Aku ingin ada perubahan
Aku berusaha berubah dari diriku sendiri
Namun tampaknya tak ada artinya
Dan idealisme ku hanya terkubur dan lenyap bersama waktu
Digantikan dengan kenyataan yang semakin menghimpit harapan-harapan yang mulai menjadi kosong dan tak bernyawa.
rein
Gw tw setiap orang harus mengalami kesedihan dan kegembiraan
Gw pernah mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan yang membuat gw tak bisa tersenyum
Namun gw pun pernah mengalami saat-saat sederhana yang menyenangkan yang membuat gw tertawa hanya untuk alasan sederhana
Tapi apakah kebahagiaan, kesedihan dan masa-masa sulit harus datang bersamaan?
Gw gak pernah mengharapkan dunia gw sempurna dan gw akan bahagia seratus persen
Tapi setidaknya gw mengharapkan agar orang-orang di dekat gw tak perlu mengalami sesuatu yang tak menyenangkan
Idealisme gw hanyalah berharap orang-orang yang gw cintai tak perlu menderita
Namun kenyataan berkata lain
Dulu gw pernah kehilangan orang yang gw sayangi
Dan sekarang gw harus sekali lagi melihat orang yang gw sayangi menderita
Kadang aku ingin ikut membantu memikul penderitaan itu
Kadang aku ingin mencoba merasakan apa yang dia rasakan
Tapi pada kenyataannya aku hanyalah makhluk lemah yang tak bisa berbuat banyak
Entah apakah Tuhan adil dengan memberikan manusia akal budi namun manusia tetap lemah adanya?
Entah apakah aku sebagai manusia yang memang tak bisa menerima kenyataan dari setiap kejadian yang ada?
Atau aku hanyalah segelintir orang yang pesimis melihat kenyataan yang tertulis dalam hidup manusia?
Aku ingin ada perubahan
Aku berusaha berubah dari diriku sendiri
Namun tampaknya tak ada artinya
Dan idealisme ku hanya terkubur dan lenyap bersama waktu
Digantikan dengan kenyataan yang semakin menghimpit harapan-harapan yang mulai menjadi kosong dan tak bernyawa.
rein
Kamis, 05 November 2009
A Turtle
Turtle is well-known for it's slowness.
While everybody grows and become more skilled in what they do, I don't.
I still remain as turtle.
Slowly, try to make my step a little bit further, but, I always fell.
I'm nothing.
I wish, I can grow into a phoenix.
Just like everybody did.
They are phoenix flying freely on the sky.
Roaming the entire earth, flapping their wings to show their pride and dignity.
Showing off all their glories.
Not with me.
I still remain as turtle.
Looking up at the sky, wishing that I can be a phoenix.
But, I know.
I will never become one.
Tormented-Complex (TC)
While everybody grows and become more skilled in what they do, I don't.
I still remain as turtle.
Slowly, try to make my step a little bit further, but, I always fell.
I'm nothing.
I wish, I can grow into a phoenix.
Just like everybody did.
They are phoenix flying freely on the sky.
Roaming the entire earth, flapping their wings to show their pride and dignity.
Showing off all their glories.
Not with me.
I still remain as turtle.
Looking up at the sky, wishing that I can be a phoenix.
But, I know.
I will never become one.
Tormented-Complex (TC)
Minggu, 01 November 2009
RE : Kenyataan
seiring dengan berjalannya waktu
aku juga merasakan hal yang sama
ketika kita sudah melewati sebuah garis
bernama "kedewasaan"
maka kita akan meninggalkan teritorial yang sudah lama kita tinggali
dan pergi mengarungi dunia yang berbeda
saat itulah sudah tak ada lagi waktu dan cara untuk kembali ke "masa kecil"
dan lebih sialnya lagi
kesadaran kita baru muncul di saat kaki kita sudah menginjak sang garis batas
yah, pada dasarnya ini semua hanyalah kesialan yang tidak dapat dihindari
mungkin juga ini hukuman atas dosa asal bagi semua manusia (kalau dosa benar2 ada
dan sekarang aku baru paham
"why Peter Pan never want to grow up"
~vermillion92
aku juga merasakan hal yang sama
ketika kita sudah melewati sebuah garis
bernama "kedewasaan"
maka kita akan meninggalkan teritorial yang sudah lama kita tinggali
dan pergi mengarungi dunia yang berbeda
saat itulah sudah tak ada lagi waktu dan cara untuk kembali ke "masa kecil"
dan lebih sialnya lagi
kesadaran kita baru muncul di saat kaki kita sudah menginjak sang garis batas
yah, pada dasarnya ini semua hanyalah kesialan yang tidak dapat dihindari
mungkin juga ini hukuman atas dosa asal bagi semua manusia (kalau dosa benar2 ada
dan sekarang aku baru paham
"why Peter Pan never want to grow up"
~vermillion92
to Rein
thank you
for always being there when I needed
for your patient
for everything you give to me
i dunno what to say
i just can say thank you
i knew it's hard for me to tell the world when i'm not feeling good
but now everything has cleared
and there's no need to worry
thank you:)
~vermillion 92
for always being there when I needed
for your patient
for everything you give to me
i dunno what to say
i just can say thank you
i knew it's hard for me to tell the world when i'm not feeling good
but now everything has cleared
and there's no need to worry
thank you:)
~vermillion 92
For Vermillion92
I don’t know what happened in your class life at school.
But I do know that something has bother in your life.
I don’t know whether it’s a big problem or not.
But I do know that this make you feel upset and upside down.
I don’t know whether you want it or not.
But I’ll always be at your side, give a place for you to rest a bit, to comfort you, support you, and make you to forget your entire problem just for a moment.
I know what you feeling
You are anxious
You are furious
But you can’t say it out loud
But in front of me, you can
You can do anything that you want
You can be anything you want
You can act as who you are
No need to feel uneasy to me
No need to say sorry to me
No need to say thanks to me
Cause from your face
I know what you want to say to me
Rein
But I do know that something has bother in your life.
I don’t know whether it’s a big problem or not.
But I do know that this make you feel upset and upside down.
I don’t know whether you want it or not.
But I’ll always be at your side, give a place for you to rest a bit, to comfort you, support you, and make you to forget your entire problem just for a moment.
I know what you feeling
You are anxious
You are furious
But you can’t say it out loud
But in front of me, you can
You can do anything that you want
You can be anything you want
You can act as who you are
No need to feel uneasy to me
No need to say sorry to me
No need to say thanks to me
Cause from your face
I know what you want to say to me
Rein
Kenyataan
Semula aku hanyalah seorang remaja eksentrik yang mendapat ilham dari tulisan-tulisan Soe Hok Gie, dan sedikit banyak ingin seperti dia… Aku ingin mati muda. Mati lebih cepat daripada orang lain, sehingga aku menjadi orang yang tidak menabur dan menuai dosa terlalu banyak.
Semula aku adalah seorang yang naïf dan berpandangan sempit. Aku mempunyai idealisme masa muda di mana aku ingin membuat orang-orang penting bagiku untuk bisa hidup bahagia baik materiil dan moril bila mereka ada bersamaku. Aku selalu menganggap itu ada cita-cita mulia. Aku tak ingin ada wajah sedih pada orang-orang terdekatku. Tanpa kusadari aku sendiri sedikit banyak mulai melukai diriku sendiri dan secara tak langsung melukai orang-orang di sekitarku dengan sikap dan pandangan naifku itu.
Pada awalnya aku hanyalah anak kecil yang menganggap diriku orang dewasa yang punya pandangan lebih luas dari orang-orang yang seumur denganku. Aku menganggap diriku mempunyai kualifikasi lebih baik dari kebanyakan orang-orang yang seusia denganku. Ternyata aku hanyalah seorang anak yang terlalu memandang lurus ke atas dan tak kusadari aku terjatuh dan terjerembab karena tak menyadari adanya batu jalanku.
Aku mulai meninggalkan idealisme masa mudaku. Aku mulai meninggalkan kenaifanku. Aku mulai berpikir lebih dewasa.
Namun yang kusadari di saat aku berpikir ini adalah saatnya aku menjadi lebih dewasa dan berusaha untuk yang terbaik, namun yang kusadari adalah kemunafikan yang tercipta pada wajah dewasaku.
Aku terjebak di dalam suatu dunia di mana kemunafikan menutupi segala hal. Aku kembali merindukan di mana aku bisa menjadi seeksentrik apapun, di mana aku bisa menggila, aku bisa beridealisme, aku bisa naïf dan tak memikirkan apa itu kemunafikan dan nilai moril dalam diriku.
Perlahan tapi pasti, kedewasaan mengikis moral dan nurani masa kecilku.
Rein
Semula aku adalah seorang yang naïf dan berpandangan sempit. Aku mempunyai idealisme masa muda di mana aku ingin membuat orang-orang penting bagiku untuk bisa hidup bahagia baik materiil dan moril bila mereka ada bersamaku. Aku selalu menganggap itu ada cita-cita mulia. Aku tak ingin ada wajah sedih pada orang-orang terdekatku. Tanpa kusadari aku sendiri sedikit banyak mulai melukai diriku sendiri dan secara tak langsung melukai orang-orang di sekitarku dengan sikap dan pandangan naifku itu.
Pada awalnya aku hanyalah anak kecil yang menganggap diriku orang dewasa yang punya pandangan lebih luas dari orang-orang yang seumur denganku. Aku menganggap diriku mempunyai kualifikasi lebih baik dari kebanyakan orang-orang yang seusia denganku. Ternyata aku hanyalah seorang anak yang terlalu memandang lurus ke atas dan tak kusadari aku terjatuh dan terjerembab karena tak menyadari adanya batu jalanku.
Aku mulai meninggalkan idealisme masa mudaku. Aku mulai meninggalkan kenaifanku. Aku mulai berpikir lebih dewasa.
Namun yang kusadari di saat aku berpikir ini adalah saatnya aku menjadi lebih dewasa dan berusaha untuk yang terbaik, namun yang kusadari adalah kemunafikan yang tercipta pada wajah dewasaku.
Aku terjebak di dalam suatu dunia di mana kemunafikan menutupi segala hal. Aku kembali merindukan di mana aku bisa menjadi seeksentrik apapun, di mana aku bisa menggila, aku bisa beridealisme, aku bisa naïf dan tak memikirkan apa itu kemunafikan dan nilai moril dalam diriku.
Perlahan tapi pasti, kedewasaan mengikis moral dan nurani masa kecilku.
Rein
Langganan:
Postingan (Atom)