Rabu, 30 Juni 2010

Memoar Indonesia (3)

aku tahu
sudah saatnya kau pergi jendral
tinggalkan tirani dan tahtamu
saatnya perubahan terjadi lagi
di tanah ini, di dalam diriku

REFORMASI!!

dan itulah zaman yang baru
yang akan mengubah semuanya
menjadi lebih baik
mendorong rakyatku menjadi lebih berprestasi
mendorong rakyatku menjadi lebih peduli
pada bangsa dan tanah airnya sendiri

dan aku melihat kemajuan
dalam beberapa bidang
kemenangan dalam ajang olimpiade
mengatasi resesi ekonomi dengan cukup baik

dan aku juga melihat kemunduran
pada orang-orang pandai
yang memilih meninggalkanku
dan tidak mengakui aku

pada dasarnya negara ini mengalami kemajuan
diikuti stagnansi
ah bukan negara ini yang maju
waktu lah yang berjalan
apa aku terlalu tua untuk menyadarinya?
hingga aku kembali ditinggalkan
oleh rakyatku sendiri

nasionalisme
sudah lama aku tidak mendengarnya
sudah lama aku tidak melihatnya
sejak tirani pertama diruntuhkan
sejak tahta berikut dikudeta
sejak....

"anakku mengapa engkau malu mengakui ibumu?"

oh,lihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matanya berlinang
mas intannya terkenang...

Kamis, 24 Juni 2010

Mournful Sorrow

When I was a little girl
I asked my mother what will I be
Will I be pretty?
Will I be rich?

When I was a little girl, I only saw that the world in a child’s view, full of bliss.
It was a child’s dream
Only in dream
Now
I am mature enough to understand the mournful sorrow
The pain deep inside my heart
Is now well hidden deeply
Only me knowing the down-like feeling as this pain
But I cannot understand this kind of strange lunacy
As if the bird with a broken wing
Can I go on flying in this foolishness world

Rabu, 26 Mei 2010

Memoar Indonesia (2)

muncullah sebuah gerakan
mengoyak tirani yang menyelubungi diriku
dari sekelompok orang yang prihatin dengan keaadanku
mereka adalah bangsaku sendiri
generasi muda dan berpendidikan
dengan berani menyuarakan apa yang aku inginkan
ya sebuah perubahan pada diriku sendiri
mengubah yang lama menjadi baru
menggantikan orde yang ada

aku tahu agar terjadi perubahan nyata
perlu sebuah titik balik
dan aku pun menetapkan titik balik itu
30 september 1965
aku perlu tokoh baru sebagai pemimpin
dan hanya ada satu orang saja
yang tetap tinggal bersamaku walaupun aku sedang kesulitan
ya, aku yakin ia dapat mengubah diriku
ya, di mataku sang jendral bagaikan pangeran berkuda putih
yang siap membawaku ke istananya dan menjadikanku permaisurinya

akhirnya tirani itu runtuh
sang jendral naik pangkat
awal yang bagus kupikir
dengan rancangan program pembangunan yang cukup sukses
kurasa aku akan mendapatkan kebebasanku sepenuhnya
dan aku akan menjadi negri terindah

sayangnya sang jendral menyembunyikan terlalu banyak hal
ternyata selama ini aku telah dibohonginya
panas hatiku bila harus mengingatnya
pembangunan? apa yang dibangun?
toh, hanya ibukota saja yang besar
potensi daerah? nol besar!
ke mana anggaran negara??
kau berikan pada anakmu sendiri,ya?
buat apa kau bunuh dan tangkap rakyat sendiri
lagipula mereka itu rakyatku bukan rakyatmu!
kau perkosa semboyan bhinneka tunggal ika
kau koyak pancasila
kau biarkan aku terjajah lagi oleh ketakutan

kekejaman harus dibalas dengan kekejaman
kau terlalu kejam padaku jendral
dan kekejamanmu sudah berlangsung terlalu lama
kebohonganmu akan membawa dirimu sendiri
ke dalam penderitaan yang tak pernah kaubayangkan
ingat jendral, karma itu ada

-->bersambung

Mei 1998

Ini adalah bagian dari masa kecil seorang anak yang kelam
Ini adalah bagian dari kesuraman dalam hidup seorang anak yang sedang bertumbuh
Ini adalah masa lalu kelam dari sebuah negara yang pernah berusaha untuk merdeka
Ini adalah Mei ‘98

Suatu hari yang biasa di bulan yang biasa di tahun yang tidak biasa
Di mana resesi menekan kehidupan setiap orang
Di mana kekacauan meracuni benak setiap insan
Di mana kemiskinan tak hanya menghimpit masyarakat namun juga pemerintah

Mei ‘98
Entah apa yang ada dalam benak manusia-manusia yang tak ubahnya seperti hewan
Entah apa yang ada dalam benak mereka yang terancam karena ras dan agama mereka
Entah apa jadinya seorang anak yang kehilangan segala-galanya
Kelurga, harta, keperawanannya, bahkan masa depannya.
Semua sirna karena kebiadaban manusia yang selama ini mengaku beradab

Mei ‘98
Titik balik dari sebuah demokrasi yang menghancurkan sebagian dunia dan masa depan kaum muda
Titik balik dari kehancuran suatu sistem yang juga ikut menghancurkan suatu ras yang di mana akupun ada di sana
Tak ada yang minta aku dilahirkan sebagai seorang keturunan
Bahkan tak pernah terbersit bahwa ini semua akan membawa kehancuran bagiku
Aku kehilangan
Ayah, ibu, adik.
Aku kehilangan harga diriku
Aku dihancurkan jiwa dan raga
Aku bahkan tak sanggup lagi berteriak
Yang dapat kurasakan sekarang hanyalah dinginnya tanah yang menyelimutiku di balik sebuah batu bertuliskan namaku.

Rein

Memoar Indonesia (1)

Halo, nama saya Indonesia
Saya berbicara dalam bahasa yang sama seperti nama saya
Bahasa Indonesia

Saat ini umur saya 65 tahun
Sebenarnya saya jauh lebih tua dari itu
tapi anggap saja saya sudah 65 tahun
karena jauh sebelum saya punya nama
saya dikenal dengan berbagai nama
Maleische Archipel
Nederlandsch Oost Indiƫ
Insulinde
Nusantara
ah, sudahlah, tak usah kau ingat nama lain
cukup panggil aku Indonesia.

Aku lahir tanggal 17 Agustus 1945
Ketika pemimpin pertamaku membacakan teks proklamasi
menaikkan bendera Merah-Putih
menyanyikan lagu Indonesia Raya
Saat itu aku berpikir ini akan menjadi sebuah awal kehidupan yang baru
Mungkin akan menjadi lebih baik setelah orang asing berkuasa atas diriku
ini saatnya bagi bangsaku untuk berkuasa atas negrinya sendiri

Aku tahu, ini pasti menjadi awal yang berat
oleh karena itu aku harus bersabar
sebelum seluruh dunia mengakui eksistensiku
aku harus menunundukkan pengacau-pengacau itu
mengikuti berbagai pertemuan untuk memperjuangkan hak-hak ku
mengacungkan senjata jika diperlukan
Aku tidak akan menyia-nyiakan setiap tetes keringat dan darah yang keluar
Aku akan memperoleh eksistensiku sepenuhnya
yang lebih menyakitkan lagi
aku harus bersikap keras terhadap bangsaku sendiri
akibat pemberontakkan yang ia lakukan

aku begitu sedih
perasaanku begitu galau
aku merasa seolah-olah aku membunuh anakku sendiri
tapi aku harus melakukannya untuk bangsaku
untuk eksistensiku
untuk aku dan semua yang mencintaiku

Setelah aku mendapatkan pengakuan
maka inilah saatnya bagiku untuk mengisi hari-hariku sebagai negara, bangsa yang baru
tetapi sang pemimpin telah lupa
lupa pada dasar negara yang ia buat sendiri
lupa pada dasar pemerintahan yang ia rancang sendiri
lupa kalau ia bertanggung jawab pada bangsa ini
lupa kalau aku berkuasa atasnya
bukan ia yang berkuasa atas aku
apalagi berkuasa atas negara-negara lainnya

Mulanya aku memaklumi ke "lupa" annya
namun semakin lama ia semakin lupa
hingga pada satu titik aku pun berpikir
ia tidak akan ingat kembali
semua sudah berakhir
negri ini harus diubah
dan saat itu usiaku baru menginjak 15 tahun...

-->bersambung

Vermillion

MEI

Sebelum bulan ini berakhir
Aku ingin menulis
tulisan ini ditujukan
bagi mereka yang mengingat
kejadian pada bulan ini
dua belas tahun yang lalu

waktu itu aku masih berusia 5 tahun
hampir 6 tahun
adikku masih belum nampak
tapi sudah ada tanda-tandanya
ibuku sedang melakukan perjuangan 9 bulannya
ayahku masih bekerja di sebuah perusahaan swasta
kakek ku masih bekerja sebagai tukang kaca
nenek ku masih membantu usaha katering keluarga
bibi ku masih tinggal di negri ini

yang masih kuingat saat itu
di depan gang rumahku dulu ada minimarket
di seberang minimarket dulu ada bioskop
lalu aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi
tiba-tiba saja bioskop dan minimarket itu ramai sekali
setelah agak sepi aku melihat pintu-pintu kaca yang pecah
dan spanduk-spanduk film terbakar

ketika kulihat TV
begitu banyak orang berdemonstrasi di jalan-jalan
gedung DPR menjadi penuh
spanduk-spanduk bertebaran
menuliskan reformasi
apa itu?

waktu itu sekolahku diliburkan
tapi aku tidak mengerti kenapa
karena seperti anak-anak lainnya
dan bahkan orang dewasa sekalipun
aku tetap menyukai hari libur
tapi kulihat keluargaku begitu ketakutan
dan bibi ku memintaku untuk melepaskan anting-anting minnie mouse kesayanganku
aku tidak mengerti kenapa tapi kuturuti kemauannya

beberapa hari kemudian aku masuk sekolah kembali
beberapa kaca jendela sekolahku pecah
begitu pula dengan gereja di samping sekolahku

aku tidak begitu ingat apa yang kupikirkan saat itu
atau apa yang kurasakan saat itu
mungkin aku tidak benar-benar berpikir atau merasakan
mungkin aku tidak benar-benar sadar saat itu
tapi satu hal yang pasti
aku telah menjadi saksi sejarah negri ini
yang mungkin takkan dilihat lagi oleh anak cucuku

Vermillion

Selasa, 25 Mei 2010

the truth

The truth that you need to sacrifice your ego before getting something priceless
The truth that you need to suffer more than anyone else in this world before you can be satisfied with your development
The truth that you need to throw away your dream before gaining again your true dream
The truth that you need to kneel down in a place that torturing you before you stand among the others
The truth that you need to be good and kind before you can be cruel and deadly dangerous
The truth is that you need to on the bottom before you can be up there and beyond of the others

rein

Akhir yang Baik

Ini adalah satu hari yang tak pernah aku perkirakan akan terjadi di akhir masa SMA-ku. Mungkin ini sesuatu yang biasa untuk banyak orang. Apalagi bagi mereka yang dapat hidup berkecukupan dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun ini berbeda bagi diriku biasa-biasa saja dan pernah merasa kehilangan masa muda ketika masuk SMA.
Biarlah aku ceritakan lebih jelas kehidupanku di masa dulu sebelum menceritakan apa yang terjadi saat ini. Yang terjadi saat ini biarlah menjadi sesuatu yang akan Anda semua baca di bagian akhir dari kisah ini. Sekali ini aku ingin mencoba membuat akhir cerita yang indah menurut versiku sendiri. Sekali lagi, mungkin kisah ini biasa-biasa saja bagi banyak orang tapi bagiku sendiri ini menjadi sesuatu yang berarti.
Sewaktu aku masih TK, ketika aku baru sadar bahwa aku hidup di dunia ini sebagai seorang anak dari sebuah keluarga sederhana. Sesuatu yang menyedihkan terjadi di tengah chaos pada Mei 1998. Ini bukanlah kisah yang menyenangkan, karena banyak anak sebayaku berakhir dengan nasib tragis entah karena terbunuh, diculik, atau bahkan menghilang. Namun seperti orang-orang lainnya. Hampir separuh dari masa depanku terenggut begitu saja. Aku ingat betul apa yang terjadi pada masa-masa itu. Kekuatiran terjadi di mana-mana, banyak daerah yang dijarah dan dirusak begitu saja oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Di masa itu aku kurang lebih berusia 6 tahun dan sebentar lagi akan masuk ke jenjang pendidikan SD. Yang bisa dikatakan harus menguras uang lagi untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Malam itu seperti malam-malam yang biasa. Aku ingat bahwa saat itu aku baru saja mulai bisa membaca dan mengenal waktu. Kurang lebih pukul 22.00 telepon berbunyi nyaring. Dan ibuku mengangkat telepon yang entah dari siapa.
Sesaat setelah ibu menutup telepon, dia memanggil ayah dan kemudia menangis. Aku yang masih kecil belum sadar tentang apa yang telah terjadi. Aku hanya mendekat kepada ibu dan bertanya, “Ada apa, Ma?”
Ibuku hanya menggelengkan kepala dan berkata, “Toko kita di Cipete dijarah dan dibakar.” Sambil terus terisak dia kembali menangkupkan tangannya ke wajahnya dan tak berhenti dalam isakan dan tangis kesedihan.
Aku kembali berpikir. Tapi aku belum mengerti apa yang telah terjadi. Malam itu aku tidur dengan perasaan dingin yang menyelimuti dada yang sejujurnya aku tak mengerti artinya.
Esok paginya aku mendapat sebuah kesimpulan dan aku berkata pada ibu.
“Ma, berarti aku tak bisa sekolah lagi ya?”
Itu hanyalah sebuah pertanyaan jujur yang terlintas dalam benak polos seorang anak kecil. Pada saat itu aku sadar, sulit untuk meneruskan sekolah jika mata pencaharian suatu keluarga sudah hancur.
Namun, nasib berkata lain untuk diriku. Mungkin aku adalah satu dari segelintir anak yang beruntung yang masih bisa meneruskan sekolahnya. Salah satu kakak ibuku yang tidak menikah mampu membiayai sekolahku sampai aku sekarang lulus SMA. Dan dia pulalalh yang menjamin kehidupanku untuk bisa melanjutkan kuliah ke depannya.
Dikarenakan adanya seseorang yang mensponsori hidupku dalam bidang material inilah aku terdorong untuk menjadi berprestasi. Karena aku tak ingin mengecewakan orang yang telah menaruh harapan begitu besar. Aku tak mungkin mengecewakan orang tuaku. Namun lain ceritanya bila ada begitu banyak orang yang menaruh harapan seperti kedua kakak laki-lakiku yang berbeda jauh umurnya denganku dan seorang tante yang selalu siap membantuku dalam masalah pendidikan dan materi.
Aku berusaha untuk bisa memenuhi harapan mereka. Mungkin tanpa aku sadari aku pernah membuat mereka semua kecewa. Namun aku sendiri berusaha menyenangkan hati mereka semua.
Aku ingat pertama kalinya aku mengikuti lomba saat aku kelas 5 SD. Aku sadar seorang guru yang merupakan wali kelasku saat itulah yang berjasa besar untuk menemukan bakatku yang selama ini tak terlihat. Beliaulah yang pertama kali mendorongku untuk menjadi lebih berprestasi. Dia menyuruhku untuk ikut lomba sinopsis yang diadakan oleh pemerintah. Meskipun saat itu hanyalah lomba tingkat sector, tapi setidaknya aku menjadi pemenang di posisi 2 sedangkan lawanku yang lain berasal dari kelas 6 SD dan ada di antara mereka yang tak mendapat peringkat apa-apa.
Semenjak aku mengenal guru inilah banyak orang yang sadar aku cukup berbakat dalam hal matematika dan logika. Dan begitu aku menginjak kelas 6 SD, guru-guru di sekolahku memberiku kesempatan untuk ikut serta dalam berbagai lomba baik dalam matematika maupun mata pelajaran beregu.
Aku ingat aku pernah lolos sampai final untuk lomba matematika dan bahkan pernah juara 1 untuk lomba mata pelajaran beregu. Aku tahu pasti, bila aku tak pernah mengenal wali kelasku ketika aku kelas 5 SD maka aku tak akan pernah mencapai apa yang kuraih ketika aku kelas 6 SD.
Akupun pernah dianjurkan untuk meneruskan ke SMP yang masih satu yayasan dengan SD-ku dulu. Namun aku menolak, padahal nilaiku cukup bagus dan ternyata aku masih dapat keringanan sebesar 50% untuk uang pangkal dan iming-iming untuk masuk kelas akselerasi. Namun aku tetap menolak karena ingin masuk ke SMP yang background pengajarannya sama dengan iman yang aku percayai.
Tapi aku tetap tak melupakan jasa guru yang telah menemukan suatu hal baru dalam diriku. Terhitung begitu aku masuk SMP dan tidak meneruskan pendidikan di sekolah yang direkomendasikan SD-ku sebelumnya. Aku kadang masih berjumpa dengan guru itu meski keadaannya sekarang sudah sedikit menyedihkan karena dia masih mempunyai anak yang masih kecil sedangkan tubuhnya mulai digerogoti oleh penyakit-penyakit yang membuat dia tak mampu berbuat sebanyak dulu. Namun tetap dia menjadi bagian yang penting bagi perkembangan awal kehidupanku sampai sekarang ini.
Aku memasuki sebuah dunia yang jauh berbeda di SMP. Aku tahu, SMP yang kumasuki adalah sebuah SMP biasa yang tidak begitu terkenal. Namun aku mendapat hal berbeda di sini. Boleh dikatakan meskipun kemampuan akademis yang dikembangkan di sini tidak begitu baik, namun aku merasa mendapatkan teman-teman sejati di sana. SMP menjadi sebuah kehidupan baru di mana aku belajar nilai-nilai moral yang tak bisa kupelajari di sekolah-sekolah lainnya. Suatu dunia berbeda yang membuat diriku sadar betapa sempitnya dunia yang kulihat saat SD. Kompleksitas dunia yang tak pernah kulihat membuka pandangan yang berbeda dalam diriku dan menjadikanku pribadi yang keras dan berprinsip saat aku menjalani kehidupan SMP-ku.
Meski masuk ke dalam lingkup yang kemampuan akademis dari guru dan muridnya berbeda jauh dengan saat aku SD, namun aku tak begitu saja lupa akan jasa-jasa orang di sekitarku. Termasuk keluargaku. Di dalam lingkungan di mana persaingan lebih mudah untuk dimenangkan, aku berusaha untuk bisa lebih. Dan tak heran aku tetap mengikuti beberapa komptetisi. Meski aku tak dapat memenangkannya karena kurangnya bimbingan materi yang diberikan. Setidaknya aku bisa mengharumkan nama sekolah sampai tingkatan tertentu dan menjadi yang terbaik di antara teman-temanku.
Tanpa aku sadari pula. Karena presetasi yang baik saat SMP aku ingin masuk sebuah SMA swasta yang cukup terkenal dan mempunyai nama. Aku merasa mampu masuk ke sana dan berprestasi serta masuk jurusan IPA. Karena aku tahu, selama ini saat SMP aku merasa meski tidak belajar pun toh aku tetap mampu menjadi salah satu yang terbaik yang pernah dimiliki sekolahku.
Namun akhirnya aku harus menelan kesombonganku sendiri. Aku harus sadar ada langit di atas langit. Aku yang saat SD dan SMP terbiasa menjadi yang terbaik di antara yang terbaik harus kembali menelan ego-ku. Aku harus bersaing dengan sejumlah orang yang jauh lebih pintar dariku dan pernah menerima pendidikan yang jauh lebih bagus dariku sendiri.
Bagi sebagian besar orang, mungkin aku terlihat seperti orang bodoh yang termakan ego-nya sendiri. Namun bagi orang yang pernah berada di puncak tanpa usaha yang berarti dan harus jatuh ke jurang rasanya hal itu merupakan hal yang menyakitkan. Ada kalanya aku ingin berusaha dengan baik agar bisa kembali menapaki jalan ke puncak. Namun aku terlalu malas untuk melakukannya. Ada kalanya aku merasa lebih baik aku pindah sekolah dan tak perlu lagi bersekolah di tempat di mana aku tak bisa menjadi berprestasi. Namun aku merasa seperti pengecut yang lari dari pertarungan sebelum tahu bagaimana hasil akhir dari pertarungan tersebut.
Aku tahu aku belum kalah. Namun diriku menolak untuk berjuang. Bisa dikatakan saat aku baru masuk SMA aku benar-benar stress. Saat ini, aku merasa alasanku untuk jatuh depresi seperti dulu merupakan alasan yang bodoh. Namun saat itu aku benar tak bisa menerima kejatuhanku. Dan aku menyikapinya dengan cara yang salah. Aku semakin malas belajar. Aku pun tak peduli lagi apakah nilaiku jatuh atau tidak yang penting aku naik kelas.
Pada akhirnya, jurusan yang aku masuki begitu aku naik kelas XI jauh dari ekspektasi orang banyak. Banyak yang mengira dengan kehebatanku waktu SMP aku akan masuk ke jurusan IPA. Namun akhirnya aku memilih sebuah jurusan minoritas yang menurut banyak orang tak menarik karena tidak menjanjikan masa depan yang cerah. Tapi aku tetap pada pendirian (sesuatu yang berharga yang pernah kuterima saat SMP adalah pendirian yang kuat) bahwa aku harus menyelesaikan apa yang telah menjadi pilihanku sendiri. Masuk ke SMA ini adalah pilihanku. Jurusan yang kupilih juga adalah pilihanku sendiri. Tak ada kata menyesal untuk diriku. Maka aku putuskan untuk berjuan habis-habisan di sini. Meski aku tak menjadi yang terbaik, tapi aku menemukan bahwa diriku mempunyai sesuatu yang lebih. Di mana aku bisa mengembangkan kemampuanku tentang komputer. Aku menemukan kembali diriku.
Sedikit banyak setelah aku semakin mendalami perkomputeran, aku ingin sekali mempunyai sebuah laptop. Karena komputer sudah menjadi bagian dari hidup yang harus dimiliki di kota besar. Maka aku benar-benar ingin mempunyai sebuah laptop. Namun aku sadar, aku tak layak meminta lebih pada tante yang selama ini membantuku dalam masalah biaya. Karena aku merasa sudah berutang budi begitu banyak padanya.
Aku tak berani mengajukan permintaan ini. Aku tahu, orang tuaku sendiri tak mampu untuk membelikan satu unit laptop. Jadi buat apa aku mengajukan suatu permintaan yang tak mungkin dipenuhi orang-orang di sekitarku. Maka aku putuskan untuk menyimpan keinginan ini dalam hati.
Akhirnya waktu terus berjalan. Aku sebentar lagi akan lulus SMA. Aku sudah mendaftar di sebuah universitas dan diterima dengan baik di sana. Aku hanya tinggal menunggu pengumuman hasil UAN dan UAS.
Di hari ketika hasil itu keluar, saat aku datang terlambat ke sekolah tiba-tiba teman-teman satu jurusanku memberikan selamat padaku.
“Rein, kamu mendapat nilai tertinggi dalam jurusan kita!!! Selamat ya!!!”
Aku sedikit kaget. Selama SMA ini aku tak pernah menjadi yang terbaik. Selama SMA ini bakatku hanya diakui segelintir orang yang tak bisa mengembangkan bakatku lebih jauh. Terlebih lagi aku merasa bahwa bakatku tak pernah diakui di sekolah. Namun tiba-tiba aku menjadi yang terbaik untuk satu hal yang tak pernah aku bayangkan. Setidaknya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi diriku.
Akhirnya setelah segala pengumuman itu selesai, beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk pergi ke Bandung untuk liburan di rumah kakakku. Namun belum ada seminggu aku di sana. Ibuku mendapat telepon untuk datang ke sekolah karena aku mendapat penghargaan.
Awalnya aku bingung. Apalagi mau sekolah ini? Akhirnya begitu aku kembali ke Jakarta dan pergi ke sekolah untuk memastikan hal itu aku mendapat sebuah kejuatan.
Ada guntingan koran terpampang di papan pengumuman sekolah ku dengan judul ‘Siswa berprestasi mendapat laptop’.
Aku berjalan mendekati guru dan guru itu berlari ke kantornya dan mengeluarkan sebuah bingkisan yang menurutnya dari pemerintah.
Tiba-tiba kepala sekolah mendatangiku dan berkata, “Katanya sih hadiahnya laptop.”
Akhirnya kubuka bingkisan itu di depan kepala sekolah. Dan benar saja itu laptop.
Mungkin ini memang jalan Tuhan atas pencapaian yang aku perjuangkan. Memang jalan Tuhan aku harus terjebak dalam masa SMA yang bisa dikatakan tak sebahagia bayangan orang-orang sebelum akhirnya mendapat akhir yang memuaskan.
Dan dengan laptop mini inilah aku menuliskan kisah ini.

Selasa, 18 Mei 2010

ANJING

"Anjing!"
anjing itu binatang
anjing itu hewan
anjing itu bukan manusia

"Anjing!"
Begitu kata ayahku
saat mengemudi di jalan raya
dan hampir tertabrak mobil
dari arah yang berlawanan

"Anjing!"
Begitu kata ibuku
ketika ia mengangkat jemuran
dan seluruh jemurannya jatuh ke tanah

"Anjing!"
Begitu kata teman-teman ku
ketika mereka jengkel

"Anjing!"
Begitu kata seorang asing
saat ia melihatku

"Anjing!"
"Jadi aku ini anjing atau manusia?"

Vermillion
18-5-10

an alinea

I wanted to reach the world
but my hands are too small
I wanted to stay down here
but they rejected me
Now I have nowhere to live
and got no purpose
and I just don't know
how to move forward with it

Vermillion
(9/5/10)

Di saat manusia berpikir

Di saat maunisa berpikir
ia mulai kehilangan kepercayaannya
Di saat manusia berpikir
ia mulai melakukan kesalahan
Di saat manusia berpikir
ia mulai sadar kalau ia salah
Di saat manusia berpikir
ia mulai menyesal
Di saat manusia berpikir
ia mulai membenci dirinya
Di saat manusia berpikir
ia mulai kehilangan dirinya

Di saat manusia bepikir,
"ah, mengapa pula harus kupikirka?"

Vermillion
(19/3/10)

Jumat, 30 April 2010

why Baskin Robin than Hagen Daaz?

I think it has been a long time since my last post...

Actually i'm not in a good mood of writing for several weeks lately.
But i think i need to write, to get some fresh air.

Well, i don't mean to promote those ice creams but people always make comparison between those trade marks. And this is my opinion...

I prefer Baskin Robin. Why?

First of all, i haven't taste Hagen Daaz before, so i can't judge whether it's good enough or not.

Secondly, i got Baskin Robin voucher from a bank, that's mean i can enjoy that precious ice cream for free or cheap (less than Rp 10.000 for a 3 scoop sundae. yum!). Trust me, if i've never got voucher for hagen daaz i won't taste it for entire of my life. (or at least somebody wanna pay for me :P )

Last, and also the least....
this is not so important reason, but somehow it affect me.....
in south korea....
BASKIN ROBIN HAVE BIG BANG FOR IT'S COMMERCIAL!!!!!
(maybe you can hear a fan girl scream only by reading this sentence)

~vermillion

Jumat, 23 April 2010

Missing Grandma

Today is the day i got a priceless job.
Yeah i became a photographer with a 3.2mp camera... WTF!

Let's begin the story...
My mom is a member of some sort of teachers in a Women Improving Ability (i don't know what it called in english, indonesian name for that group is Kursus Ketrampilan Wanita) in my church.
So, for the 30th Anniversary of that group, the whole member took me as the photographer.
With just a dumb camera (3.2 mp) and 2 memory card (64MB and 16MB) i went to the church just to do my job.
Before going there, we (my mom, her friend, and i) went to a house of a grandma.
This grandma is also a former teacher at that group.
She is quite old, maybe about 70yo.

Yeah, we went to the church together.
Before starting my job as photographer, i need to do all the things that they cannot handle for this anniversary.
So I became "anything-worker".
I need to rearrange the placement of this and that.
Took some snack to the place.
etc....

And what i got from this are just drink, snack, and lunch :D
A priceless job!!!

:D

Finally when i wanted to go home.
I realize something....
The granny (from the story before) is gone.
But her handbag ( purse maybe) still in the room!!!!
Where is she?

No doubt!
i thought that she went home with somebody else but forgot to take her handbag.
So i decided to take her bag and hand it to her house. :D

When i arrived at her house.
Her husband appeared.
I tried to give the reason why the handbag of his wife is in my hand.
And after saying the possibility that she went home before me
He said "Now, where's the granny?"
WTF!!!
i don't know where is she!!!
I just wanted to go home when i realized she disappeared.
"so she didn't go home yet?" i replied.
"not yet"
OMG!!!
what should i do?
"I will phone my mom, to make sure where she is..."

Suddenly a car honking!!!

THE GRANNY TOOK OFF FROM THAT SILLY CAR!!!!!
SHE FORGOT TO SAY THAT SHE WENT HOME FIRST AND SHE REALIZED THAT HER BAG WAS MISSING, CAME BACK TO CHURCH WITHOUT KNOWING THAT HER HANDBAG WAS IN MY HAND!!!!

OMG.....
What a pitty...
I'm tired of panicking when realize she was gone...

Minggu, 04 April 2010

Penantian

Penantian ini terasa begitu panjang
Detik dan menit berlalu
Namun kau tak kunjung datang
Sekali lagi kupandang sebuah mesin kecil yang ada di tanganku
Sebuah jam yang terikat dengan tali kecil di pergelangan tanganku
Sudah sepuluh menit aku menunggumu
Dan kau tak kunjung datang

Orang-orang berlalu lalang di sekitarku
Sedikit memperhatikan keresahanku di tegah penantian
Sebagian berdiri dan memandang tak peduli
Beberapa lainnya hanya diam dan memperhatikan gerak-gerikku
Sebagian lain bertanya apa tujuanku menanti dirimu
Pertanyaan yang mereka ajukan malah membuatku semakin resah

Sekali lagi detik dan menit berlalu
Dan kau tetap tak menampakkan diri
Kulirik benda mekanis kecil di pergelangan lenganku
Tiga puluh menit telah berlalu

Ada pula orang-orang di sekitarku yang sedang menunggu seperti diriku
Dan keresahan dalam aura mereka membuat ku khawatir
Apakah kau benar akan datang atau tidak
Sesaat ketika kumemandang ke arah jalan besar itu
Terlihat seorang temanmu berjalan ke arahku
Namun saat aku mendekatinya
Dia malah menjauh dariku dan menolak kehadiranku
Aku pun semakin putus asa

Kulirik lagi jam kecil di tanganku
Sudah empat puluh lima menit berlalu
Dan beberapa orang di sekitarku yang memulai penantian yang sama
Mulai beranjak pergi dan tak peduli lagi

Aku semakin ragu
Tapi aku ingin bertahan
Aku ingin percaya kau datang
Meski aku merasa kemungkinan itu sangatlah kecil
Meski keputusasaan mulai merasuki nadi-nadiku
Aku masih ingin percaya
Karena kaulah satu-satunya harapanku
Satu-satunya yang dapat menjadi tumpuanku di saat seperti ini

Aku menatap kembali ke arah jalan
Dan menemukan secercah harapan
Tak seperti temanmu yang menolak kehadiranku
Sosokmu yang abu-abu itu membawa kebahagian dalam hidupku
Aku tahu tak sia-sialah penantianku
Menunggumu BUSWAY!

(intinya sih ini di shelter busway!!!)

Rein

Sabtu, 13 Maret 2010

Squirrel

(based on the previous post, edited and translated by Rein)

"Even though squirrel has a great skill of jumping, one day he will fall", said the grandfather.

"So what happened to the squirrel after he fell down?", asked the boy.

The grandfather just smile and wondering about how smart his grandson is.
The boy was still curious about the answer but he kept silent.

The boy grew up, at that time he was in the school and the teacher said the same thing like what his grandfather's said.

"Squirrel has a great skill of jumping, but one day he can fall down, when he jumped from a tree to another"

Than, the boy asked the same thing.

"So what happened to the squirrel after he fell down, Sir?"

The teacher shocked. Confused with the boy's answer. He didn't know how to answer that question, but still he was a teacher. He need to show how smart he is to his students.

"The main thing from what I said before is not about what will happen after the squirrel fell down, Kid!", said the teacher.

Knowing there's no point to argue, the boy put that question deep into his heart. Yet, he still wondering about the answer.

The little boy grew up and became a man with a great talent, gorgeous look, and good living. But still he couldn't find the answer for a simple question. So, he lived his life with no reason. No point. He had a good life but his heart was empty. Without a simple answer for his simple question, his life was incomplete.

One day, his life became upside-down. He got a problem with his lungs. The doctor said he would live just for a short term and in order to prolong his live, the doctor suggested him to live on a hill with a fresh air to clean his lungs.

He moved to a hill and lived in a small villa. Now he filed his live in a different way. He spent most of his time by reading a book near a window.

In an unusual day, he wanted to read a book in his terrace. So, he walked out from his villa, sat down on a chair and saw a clear view of trees before reading the book.

There's a spot on a tree that distract him. With his curiosity, he walked towards the tree from after he saw a squirrel jump from a tree to another. He found out that the squirrel brought two acorns on his hands.

Although the squirrel had skill to jump, he couldn't move easy when he landed after jumped from a tree. Unluckily, when the squirrel wanted to jump to a tree, where's he had a hole to live in, he slipped away, almost fell down but lost his acorns.

The man was curios to what the squirrel would do. He saw that the squirrel went down from the tree and searched for his acorns behind the crowdy grass. It took sometime until the squirrel found two acorns. The man still studying the squirrel's behavior and finally the squirrel came into his hole.

The man asked a question to himself. "Why the squirrel take two acorns for himself? One is enough for himself."

He peeked inside the hole. He found out that the squirrel had two children inside it.

Two days after found out the answer of the squirrel, the man was death in peace, although he had a regret for living his life with no point to struggle. Unlike the squirrel who struggled for his children even he had to fall down thousand times. But still now his life was complete.