Jumat, 24 September 2010

akhirnya...

satu posting lagi sebelum bulan ini berakhir
gw ingin memberitahukan kabar gembira
i'm no longer single
special thanks to rein and TC for listening my curhat. hehehe
love u guys! :D

-vermillion

Senin, 06 September 2010

Aqrila’s prayer

Aramant
My goddess of time
Please tell me
Why did you take his time?
Why?
You promised me that I can see him again in the future
You told me to wait for his come back
Now he can’t
My dear Aramant,
I want him to be here again
I want to meet him
I want to give all that I have for him
I want to give my time for him
Please Aramant
Grand my wish
So that he can see me again
Although I can’t see him
Please, my dear Aramant
This is the only prayer from me
And will be my last


Rein

Jumat, 03 September 2010

Goddess of time

Ini hanyalah sebuah cerita, di mana waktu menjadi sebuah keabadian dan kutukan.

Di sebuah desa kecil, di tempat di mana orang-orang mencari kedamaian, hiduplah seorang gadis yang sedang merekah kedewasaannya bernama Aqrila. Sedari kecil dia tinggal di bersama para penjaga kuil di desa, karena ayah dan ibunya telah lama tiada akibat penyakit yang pernah merebak di desa itu. Gadis ini tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita dengan wajah bulat dan mata berwarna biru jernih, sejernih air di sungai. Aqrila juga memiliki hati yang lembut, namun hatinya telah menjadi milik seorang pemuda, yakni milik Larxash.

Larxash dan Aqrila tumbuh besar bersama, di mana setiap hari Larxashlah yang menemani Aqrila bermain sedari kecil. Sampai akhirnya saat ini, Aqrila membantu merawat kuil dan memelihara taman kuil tua itu, sedangkan Larxash mengabdikan diri sebagai prajurit yang menjaga desa itu.

Sebelum Larxash ikut serta sebagai prajurit, Aqrila yang berhati lembut pernah bertanya padanya, “Mengapa kamu ingin menjadi prajurit? Yang menjadi tugas seorang prajurit hanyalah berperang. Dan aku tak mau kamu menjadi seorang yang harus menumpahkan darah musuh-musuhmu.”

“Aku menjadi prajurit bukan untuk berperang, namun aku ingin menjaga dirimu. Di sisi lain, dengan menjaga kedamaian desa ini, aku pun bisa melindungimu. Maka itulah aku menjadi seorang prajurit.” Jawab Larxash.

Setelah mendengar hal itu, mengertilah Aqrila bahwa Larxash benar-benar ingin melindungi dirinya dan orang-orang yang disayanginya. Maka dia pun membiarkan Larxash untuk menjadi seorang prajurit.

Namun kebahagiaan dan kedamaian dari pasangan muda ini terganggu oleh sebuah berita yang menghapus segala harapan. Kota di sisi timur desa itu telah diserang oleh pasukan dari negara lain. Maka raja telah menyatakan bahwa prajurit-prajurit lain di sekitar daerah itu harus menuju ke kota tersebut untuk mengambil kembali tanah mereka dari negara penjajah.

Aqrila terkejut mendengar kenyataan ini. Dia sadar, bahwa saat ini seorang prajurit harus melaksanakan tugas yang diembannya dan dengan begitu artinya apapun yang terjadi Larxash harus menumpahkan darah. Maka semenjak munculnya kebijakan itu, Aqrila yang lembut menjadi murung.

Seiring waktu, prajurit-prajurit di desa tersebut mulai mempersiapkan diri, perbekalan, dan juga peralatan untuk persiapan perang, tak terkecuali Larxash. Dia pun gundah dengan kenyataan yang harus dihadapinya nanti, apalagi dia teringat akan pertanyaan Aqrila dulu saat dia akan ikut serta menjadi prajurit untuk melindungi desa ini. Dia tak pernah menduga perang seperti ini akan terjadi.

Sehari sebelum berangkat ke kota di timur, Larxash datang ke dalam kuil dan berdoa di sana. Dia tak tahu apa tujuan sebenarnya bagi dia untuk berdoa, namun yang dia tahu dia membutuhkan sebuah jawaban atas keraguannya yang ada dalam hatinya. Dia gundah oleh kenyataan untuk tetap menumpahkan darah demi kedamaian desa atau lari dari perang ini sebagai seorang pengecut.

Di tengah-tengah doanya yang begitu hening, tiba-tiba seseorang menepuk bahu Larxash. Dia pun membuka matanya dan menengok ke samping. Ternyata Aqrila telah berdiri di sampingnya.

“Bawalah sebatang mawar ini ke dalam perjalananmu besok. Aku tahu kau merasa gundah, begitu pula diriku. Namun bukan berarti aku akan membencimu bila kau terlibat perang ini. Karena aku tahu ini bukanlah keinginan dan harapanmu, namun hal ini tetap harus kamu lewati.” Kata Aqrila.

“Maafkan keputusanku yang pada akhirnya membuat diriku sendiri harus menumpahkan darah orang-orang yang menjadi musuhku.”

“Aku sudah tak peduli dengan itu semua. Yang aku percaya sekarang, bila waktu mengijinkan, kita pasti bisa bertemu kembali setelah semua perang ini usai.”

“Ya, aku berjanji kita akan bertemu lagi dan aku tak akan pernah lupa bahwa kau mencintaiku sebegitu tulusnya sehingga merelakan kepergianku saat ini. Dan ingatlah aku pun mecintaimu.”

“Pergilah Larxash, seberapapun aku merindukanmu, aku pasti akan terus menunggu kepulanganmu.”

Dan dengan berbekal mawar pemberian Aqrila, Larxash berhasil meneguhkan hatinya. Dia bersama prajurit-prajurit lain telah mempersiapkan diri akan segala kemungkinan yang akan terjadi bila mereka tiba di kota tersebut. Namun dia tetap percaya, bahwa suatu hari nanti, bila waktu mengijinkan, dia pasti bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarganya dan juga dengan Aqrila yang dicintainya.

Setelah beberapa hari perjalanan, ternyata para prajurit itu dihadapkan pada situasi di mana kehancuran besar telah terjadi pada kota di timur. Prajurit yang menjaga kota itu sudah habis oleh musuh. Kota itu sudah dikuasai musuh. Dan ternyata mereka sudah terjebak, karena pasukan musuh sudah memprediksikan kedatangan mereka. Cepat atau lambat prajurit-prajurit desa ini pun harus menyerang atau mereka akan diserang terlebih dahulu.

Hal ini menjadi sebuah kenyataan pahit bagi Larxash. Dia tak ingin segalanya terjadi secepat itu. Apalagi dengan keadaan genting seperti ini, dia semakin ragu apakah dia bisa memenuhi janjinya untuk kembali dan bertemu dengan Aqrila kembali.

Akhirnya komandan pasukan memerintahkan para prajuritnya mempersiapkan penyerangan yang akan dilakukan menjelang fajar di esok hari. Larxash berdoa dalam hatinya, dia pun mengeluarkan sebatang mawar dari Aqrila dari perbekalannya sendiri. Mawar itu telah layu. Dan terbersit dalam hati Larxash, apakah hidupnya akan seperti mawar itu yang akan mati dengan begitu cepatnya.

Di sisi lain, di desa kecil itu. Seluruh keluarga yang suami dan anak laki-lakinya ikut pergi berperang merasa gundah. Apakah mereka masih dapat bertemu dengan orang-orang yang mereka sayangi? Begitu pun dengan Aqrila, dia menanyakan pertanyaan yang sama dalam hatinya. Dan karena kegundahan inilah, Aqrila tak henti-hentinya memanjatkan doa kepada Amarant, Dewi Waktu yang menjaga kuil tersebut, agar dia mendapat kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Larxash yang dicintainya.

Amarant sang Dewi melihat kesungguhan Aqrila. Dia tahu betapa lembut hati gadis itu. Betapa gadis itu mencintai Larxash apa adanya dan kesungguhan yang terdalam. Dia pun berjanji pada Aqrila bahwa harapannya dapat terkabul.

Esoknya, tibalah hari penyerangan. Larxash yang merupakan pemain pedang yang cukup handal berada di garis terdepan bersama teman-temannya. Dia hanya bisa memasrahkan dirinya pada Dewi Waktu agar dia bisa memenuhi janjinya di kemudian hari bila segala perang ini selesai.

Saat penyerangan terjadi, tanpa disangka oleh komandan pasukan, ternyata prajurit musuh sudah mempersiapkan diri. Dari balik benteng kota, mereka telah menyiapkan sepasukan besar pemanah. Dan saat Larxash bersama prajurit-prajurit lainnya dating menyerang, hujan panah tak dapat dihindari. Satu per satu teman-teman Larxash meregang nyawa. Dia tetap berusaha maju. Namun sebuah panah berhasil menembus baju besinya dan mengenai jantungnya. Akhirnya Larxash tewas di tengah genangan darah.

Satu hari telah berlalu tanpa ada kabar dari peperangan yang terjadi di timur desa kecil itu. Semua keluarga yang ditinggalkan orang-orang yang disayanginya untuk berperang memuncak kegundahahnnya. Tak terkecuali Aqrila. Hanya satu yang terus dipikirkannya. Larxash.

Keesokkannya, seorang prajurit kembali. Dia berhasil segera kembali ke desa begitu tahu bahwa perang telah menuai kekalahan. Dia memberitahukan kepada warga desa itu bahwa mereka yang telah ikut berperang bersamanya telah tiada. Pahitlah hati Aqrila begitu mendengar kabar ini. Segeralah dia berlari ke dalam kuil itu dan berdoa pada Amarant. Dalam permohonannya dia mengucap agar Amarant menghentikan waktunya dan memberikan waktu itu pada Larxash.

Amarant ragu dengan keputusan Aqrila, namun dia semula telah berjanji agar Aqrila dapat berjumpa dengan Larxash. Maka dia pun mengkristalkan waktu Aqrila dan memberikan waktu itu pada Larxash.

Larxash yang terbaring di tengah-tengah peperangan itu tiba-tiba bangun dan tersadar. Dia memandang ke tempat di mana luka panah itu seharusnya berada. Memang ada lubang bekas panah yang melubangi baju besinya. Namun luka seolah tak pernah ada di sana. Dia memandang ke selilingnya, teman-temannya telah tewas namun tempat di mana semula darahnya menggenang kini dipenuhi helai-helai mawar. Larxash merasakan gundah seketika dalam hatinya. Sedapat mungkin dia ingin secepatnya pergi kembali ke desa itu.

Saat Larxash tiba di desa, dia segera berlari menuju Kuil Amarant, berharap dia dapat menemukan Aqrila di sana. Aqrila semula biasa dijumpainya sedang berdoa di sana sekarang terkristalisasi dengan begitu indahnya di Amarant. Segeralah dia sadar bahwa Aqrila telah memberikan waktu yang dimilikinya untuk menyelamatkan kembali Larxash.

Segeralah tangis Larxash memenuhi ruang megah di kuil itu. Amarant merasa sedih melihat kedua anak manusia ini berjumpa namun tak dapat bersatu. Di tengah-tengah tangisan itu Larxash memohon agar waktu dia dapat mengembalikan waktu Aqrila. Namun Amarant tak bisa berbuat apapun. Waktu yang telah diberikan tak dapat diambil kembali. Larxash kembali meraung pedih atas berhentinya waktu bagi Aqrila. Maka dia menarik pedangnya yang semula tersarung di rantai pinggangnya. Kemudian mengangkat pedang itu dan menghujamkannya ke jantungnya.

Di saat itulah Amarant merasa begitu pedih. Kedua anak manusia itu telah kehilangan waktunya. Waktu Aqrila berhenti dan terkristalisasi setelah dia memberikannya pada Larxash, sedangkan waktu Larxash berhenti dan terhisap pedang. Amarant tak bisa melakukan apapun untuk membuat mereka berjumpa maupun untuk menggulirkan kembali waktu kedua anak manusia yang saling mencinta dalam keabadian waktu. Karena waktu yang telah menyatukan mereka dan waktu pula yang memisahkan mereka.


Rein
reedited by Vermillion92

Sabtu, 28 Agustus 2010

Dear Vermillion92

Now, we’ve been apart for quite sometime
And furthermore, I’ll go somewhere that you can’t reach easily
You know,
Now you are a part of my life
In the past you are someone who had filled my life
And now
Although we can’t meet for sometime
For the time that you and I never know
You are still a part of my life
In the past, at this time, even in my future
Although we are separated
Because of place and time
But you still in my heart
As your friend
I always wish you the best for your life

rein

Jumat, 27 Agustus 2010

curcol (curhat colongan)

jadi beginilah nasibku selama tiga minggu kuliah
gw nyangka ternyata kuliah baru tiga minggu
tp udah bnyk kejadian

pertama2 dimulai dari masa2 daftar ulang yg terjadi seminggu sblm kuliah
saat pertama kalinya gw masuk ke dalam dunia anak kos...
apa yg dirasakan oleh seseorang yg biasanya tinggal sama keluarga lalu tiba2 harus survive sendiri? ada perasaan sedih krn kangen rumah dan bosan serta bete gara2 di kosan ga ngapa2in. hmm....

klo gw inget lagi hal itu, kok rasanya udah lama bgt. padahal baru kurang lebih 3 mingguan. kemudian setelah bete2an dan bosen2an mulailah gw berkenalan dgn tetangga gw yg ternyata seorang cowok hyegene freak! yah dy aga2 lebay mengenai kebersihan dan kamarnya ga boleh diutak-atik

kemudian gw berkenalan dgn seseorang di lt.3 yg seangkatan. ternyata kakakny adalah sahabat tetangga gw. lalu gw berkeliling kos bersama ank2 angkatan 2010 untuk berkenalan.

setelah itu kejadian open house. di sana gw diperkenalkan dgn beberapa teman2 dari tetangga gw itu dan diajak tour kampus.

dan sekarang setelah 3 minggu berlalu, muncul benih2 cinta antara tetangga gw dgn seorang teman gw. hahahaha senangnya!

gw jg menemukan sebuah keluarga baru di kampus baru. gw senang.dan gw ga ngerti knp gw bs jadi "agak populer" (jujur aja gw ga enk pake kata ini, kesanny gimana gitu. dan sbnrny gw jg aga mls klo jd terlalu high profile) di kalangan mahasiswa tingkat atas...
tapi,pokokny sejauh ini gw merasa senang2 saja... hahahahaha

sekian
-vermillion-

Minggu, 15 Agustus 2010

Dear Rein,

It has been a thrilling journey
I still remember the first time we met
Sitting in the classroom
Looking at each other
Without knowing what the future will bring

I know how we could know each other
I know we have similarities
I know we have differences
But I know
We will build a neverending friendship

Every meeting will be ended by a farewell
Hello and goodbye
Though it’s hard to do it
I have to say it

This ship
Is called friendship
It doesn’t care about the time or place
It just needs trust and love

I believe
Although we are walking on the different path
We are still sailing in the same ship
We are sailing in the friendship


love,
vermillion

P.S.
i'm gonna miss you
sorry can't meet you before you go...

Rabu, 28 Juli 2010

time

and here it goes...


time flies
sometimes it's hard
sometimes it's soft

grass
bushes
trees

leaves
flowers
fruits

spring summer autumn winter

they just got their own time
-vermillion

Senin, 19 Juli 2010

TC is Here...

Well, long time no see, guys.
Just to tell all of you that TC is not dead yet.

Tormented-Complex (TC)

Rabu, 30 Juni 2010

Memoar Indonesia (3)

aku tahu
sudah saatnya kau pergi jendral
tinggalkan tirani dan tahtamu
saatnya perubahan terjadi lagi
di tanah ini, di dalam diriku

REFORMASI!!

dan itulah zaman yang baru
yang akan mengubah semuanya
menjadi lebih baik
mendorong rakyatku menjadi lebih berprestasi
mendorong rakyatku menjadi lebih peduli
pada bangsa dan tanah airnya sendiri

dan aku melihat kemajuan
dalam beberapa bidang
kemenangan dalam ajang olimpiade
mengatasi resesi ekonomi dengan cukup baik

dan aku juga melihat kemunduran
pada orang-orang pandai
yang memilih meninggalkanku
dan tidak mengakui aku

pada dasarnya negara ini mengalami kemajuan
diikuti stagnansi
ah bukan negara ini yang maju
waktu lah yang berjalan
apa aku terlalu tua untuk menyadarinya?
hingga aku kembali ditinggalkan
oleh rakyatku sendiri

nasionalisme
sudah lama aku tidak mendengarnya
sudah lama aku tidak melihatnya
sejak tirani pertama diruntuhkan
sejak tahta berikut dikudeta
sejak....

"anakku mengapa engkau malu mengakui ibumu?"

oh,lihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matanya berlinang
mas intannya terkenang...

Kamis, 24 Juni 2010

Mournful Sorrow

When I was a little girl
I asked my mother what will I be
Will I be pretty?
Will I be rich?

When I was a little girl, I only saw that the world in a child’s view, full of bliss.
It was a child’s dream
Only in dream
Now
I am mature enough to understand the mournful sorrow
The pain deep inside my heart
Is now well hidden deeply
Only me knowing the down-like feeling as this pain
But I cannot understand this kind of strange lunacy
As if the bird with a broken wing
Can I go on flying in this foolishness world

Rabu, 26 Mei 2010

Memoar Indonesia (2)

muncullah sebuah gerakan
mengoyak tirani yang menyelubungi diriku
dari sekelompok orang yang prihatin dengan keaadanku
mereka adalah bangsaku sendiri
generasi muda dan berpendidikan
dengan berani menyuarakan apa yang aku inginkan
ya sebuah perubahan pada diriku sendiri
mengubah yang lama menjadi baru
menggantikan orde yang ada

aku tahu agar terjadi perubahan nyata
perlu sebuah titik balik
dan aku pun menetapkan titik balik itu
30 september 1965
aku perlu tokoh baru sebagai pemimpin
dan hanya ada satu orang saja
yang tetap tinggal bersamaku walaupun aku sedang kesulitan
ya, aku yakin ia dapat mengubah diriku
ya, di mataku sang jendral bagaikan pangeran berkuda putih
yang siap membawaku ke istananya dan menjadikanku permaisurinya

akhirnya tirani itu runtuh
sang jendral naik pangkat
awal yang bagus kupikir
dengan rancangan program pembangunan yang cukup sukses
kurasa aku akan mendapatkan kebebasanku sepenuhnya
dan aku akan menjadi negri terindah

sayangnya sang jendral menyembunyikan terlalu banyak hal
ternyata selama ini aku telah dibohonginya
panas hatiku bila harus mengingatnya
pembangunan? apa yang dibangun?
toh, hanya ibukota saja yang besar
potensi daerah? nol besar!
ke mana anggaran negara??
kau berikan pada anakmu sendiri,ya?
buat apa kau bunuh dan tangkap rakyat sendiri
lagipula mereka itu rakyatku bukan rakyatmu!
kau perkosa semboyan bhinneka tunggal ika
kau koyak pancasila
kau biarkan aku terjajah lagi oleh ketakutan

kekejaman harus dibalas dengan kekejaman
kau terlalu kejam padaku jendral
dan kekejamanmu sudah berlangsung terlalu lama
kebohonganmu akan membawa dirimu sendiri
ke dalam penderitaan yang tak pernah kaubayangkan
ingat jendral, karma itu ada

-->bersambung

Mei 1998

Ini adalah bagian dari masa kecil seorang anak yang kelam
Ini adalah bagian dari kesuraman dalam hidup seorang anak yang sedang bertumbuh
Ini adalah masa lalu kelam dari sebuah negara yang pernah berusaha untuk merdeka
Ini adalah Mei ‘98

Suatu hari yang biasa di bulan yang biasa di tahun yang tidak biasa
Di mana resesi menekan kehidupan setiap orang
Di mana kekacauan meracuni benak setiap insan
Di mana kemiskinan tak hanya menghimpit masyarakat namun juga pemerintah

Mei ‘98
Entah apa yang ada dalam benak manusia-manusia yang tak ubahnya seperti hewan
Entah apa yang ada dalam benak mereka yang terancam karena ras dan agama mereka
Entah apa jadinya seorang anak yang kehilangan segala-galanya
Kelurga, harta, keperawanannya, bahkan masa depannya.
Semua sirna karena kebiadaban manusia yang selama ini mengaku beradab

Mei ‘98
Titik balik dari sebuah demokrasi yang menghancurkan sebagian dunia dan masa depan kaum muda
Titik balik dari kehancuran suatu sistem yang juga ikut menghancurkan suatu ras yang di mana akupun ada di sana
Tak ada yang minta aku dilahirkan sebagai seorang keturunan
Bahkan tak pernah terbersit bahwa ini semua akan membawa kehancuran bagiku
Aku kehilangan
Ayah, ibu, adik.
Aku kehilangan harga diriku
Aku dihancurkan jiwa dan raga
Aku bahkan tak sanggup lagi berteriak
Yang dapat kurasakan sekarang hanyalah dinginnya tanah yang menyelimutiku di balik sebuah batu bertuliskan namaku.

Rein

Memoar Indonesia (1)

Halo, nama saya Indonesia
Saya berbicara dalam bahasa yang sama seperti nama saya
Bahasa Indonesia

Saat ini umur saya 65 tahun
Sebenarnya saya jauh lebih tua dari itu
tapi anggap saja saya sudah 65 tahun
karena jauh sebelum saya punya nama
saya dikenal dengan berbagai nama
Maleische Archipel
Nederlandsch Oost Indiƫ
Insulinde
Nusantara
ah, sudahlah, tak usah kau ingat nama lain
cukup panggil aku Indonesia.

Aku lahir tanggal 17 Agustus 1945
Ketika pemimpin pertamaku membacakan teks proklamasi
menaikkan bendera Merah-Putih
menyanyikan lagu Indonesia Raya
Saat itu aku berpikir ini akan menjadi sebuah awal kehidupan yang baru
Mungkin akan menjadi lebih baik setelah orang asing berkuasa atas diriku
ini saatnya bagi bangsaku untuk berkuasa atas negrinya sendiri

Aku tahu, ini pasti menjadi awal yang berat
oleh karena itu aku harus bersabar
sebelum seluruh dunia mengakui eksistensiku
aku harus menunundukkan pengacau-pengacau itu
mengikuti berbagai pertemuan untuk memperjuangkan hak-hak ku
mengacungkan senjata jika diperlukan
Aku tidak akan menyia-nyiakan setiap tetes keringat dan darah yang keluar
Aku akan memperoleh eksistensiku sepenuhnya
yang lebih menyakitkan lagi
aku harus bersikap keras terhadap bangsaku sendiri
akibat pemberontakkan yang ia lakukan

aku begitu sedih
perasaanku begitu galau
aku merasa seolah-olah aku membunuh anakku sendiri
tapi aku harus melakukannya untuk bangsaku
untuk eksistensiku
untuk aku dan semua yang mencintaiku

Setelah aku mendapatkan pengakuan
maka inilah saatnya bagiku untuk mengisi hari-hariku sebagai negara, bangsa yang baru
tetapi sang pemimpin telah lupa
lupa pada dasar negara yang ia buat sendiri
lupa pada dasar pemerintahan yang ia rancang sendiri
lupa kalau ia bertanggung jawab pada bangsa ini
lupa kalau aku berkuasa atasnya
bukan ia yang berkuasa atas aku
apalagi berkuasa atas negara-negara lainnya

Mulanya aku memaklumi ke "lupa" annya
namun semakin lama ia semakin lupa
hingga pada satu titik aku pun berpikir
ia tidak akan ingat kembali
semua sudah berakhir
negri ini harus diubah
dan saat itu usiaku baru menginjak 15 tahun...

-->bersambung

Vermillion

MEI

Sebelum bulan ini berakhir
Aku ingin menulis
tulisan ini ditujukan
bagi mereka yang mengingat
kejadian pada bulan ini
dua belas tahun yang lalu

waktu itu aku masih berusia 5 tahun
hampir 6 tahun
adikku masih belum nampak
tapi sudah ada tanda-tandanya
ibuku sedang melakukan perjuangan 9 bulannya
ayahku masih bekerja di sebuah perusahaan swasta
kakek ku masih bekerja sebagai tukang kaca
nenek ku masih membantu usaha katering keluarga
bibi ku masih tinggal di negri ini

yang masih kuingat saat itu
di depan gang rumahku dulu ada minimarket
di seberang minimarket dulu ada bioskop
lalu aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi
tiba-tiba saja bioskop dan minimarket itu ramai sekali
setelah agak sepi aku melihat pintu-pintu kaca yang pecah
dan spanduk-spanduk film terbakar

ketika kulihat TV
begitu banyak orang berdemonstrasi di jalan-jalan
gedung DPR menjadi penuh
spanduk-spanduk bertebaran
menuliskan reformasi
apa itu?

waktu itu sekolahku diliburkan
tapi aku tidak mengerti kenapa
karena seperti anak-anak lainnya
dan bahkan orang dewasa sekalipun
aku tetap menyukai hari libur
tapi kulihat keluargaku begitu ketakutan
dan bibi ku memintaku untuk melepaskan anting-anting minnie mouse kesayanganku
aku tidak mengerti kenapa tapi kuturuti kemauannya

beberapa hari kemudian aku masuk sekolah kembali
beberapa kaca jendela sekolahku pecah
begitu pula dengan gereja di samping sekolahku

aku tidak begitu ingat apa yang kupikirkan saat itu
atau apa yang kurasakan saat itu
mungkin aku tidak benar-benar berpikir atau merasakan
mungkin aku tidak benar-benar sadar saat itu
tapi satu hal yang pasti
aku telah menjadi saksi sejarah negri ini
yang mungkin takkan dilihat lagi oleh anak cucuku

Vermillion

Selasa, 25 Mei 2010

the truth

The truth that you need to sacrifice your ego before getting something priceless
The truth that you need to suffer more than anyone else in this world before you can be satisfied with your development
The truth that you need to throw away your dream before gaining again your true dream
The truth that you need to kneel down in a place that torturing you before you stand among the others
The truth that you need to be good and kind before you can be cruel and deadly dangerous
The truth is that you need to on the bottom before you can be up there and beyond of the others

rein